Kalo aku peratiin nih, istilah mantu idaman biasanya ditujukan untuk para calon (atau sudah menjadi) menantu lelaki. Rasanya sih, setelah pernikahan berlangsung, maka posisi ibu dari pihak istri tidak terlalu menjadi big deal oleh menantu lelakinya (sebelum diprotes, bener, ini nggak bisa digeralisir..tapi secara pribadi, menurutku beginilah keadaan umumnya). Entah mengapa, kondisinya akan sangat berbeda buat menantu perempuan terhadap ibu mertuanya (ibu suaminya)..Sampai-sampai di majalah wanita lebih sering muncul artikel-artikel yang membahas tentang “hubungan mertua dengan menantu perempuan” atau hal-hal semacam ini. (Nggak tau juga ya kalo di majalah-majalah kaum pria juga ada nahasan yang sama hehe). Hmm..kenapa ya?Seakan-akan, lebih sulit menjadi menantu perempuan idaman dibanding menjadi menantu lelaki idaman. Banyak alasan-alasan dibalik ini pasti, tapi aku lebih kepikiran tentang “lalu bagaimana dong supaya bisa menjadi the-so-called mantu idaman?” Apa iya sih sesusah itu?Akan sangat tergantung pada kedekatan seorang anak lelaki pada ibunya pastinya. Kayaknya ini faktor yang sangat menentukan.
Ada juga faktor seperti banyaknya jumlah saudara dan posisi suami dalam keluarga tersebut (pasti beda deh jadi istri si sulung, istri si bungsu atau istri si anak tunggal).
Terus terang coretanku kali ini (eh, ketikan deng tepatnya) emang terinspirasi dari hubunganku sendiri dengan Ibu mertuaku…ada saat-saat dimana keegoisanku muncul..dan mungkin juga sebaliknya. Aku cuma ngerasa, apa iya setiap ada isu, aku harus menunggu suamiku untuk menyampaikan unek-unekku? Dan ajawabannya buat aku...enggak perlu kok…karena Mertuaaaa…jugaaa..manusiaaaa (buat yg di luar negri mungkin gak tau, ini lagu yang lagi kondang banget disini hehe..)
Karena aku termasuk yang berpendapat, saat telah menikah, maka aku adalah anaknya, begitu juga suamiku menjadi anak mamaku. (Harusnya) posisi aku dan suamiku adalah sama. Nggak gampang jeee…
Dalam hal ini, harus ikhlas menempatkan Beliau sebagai orang tua, menerima dengan segala bentuk kelebihan dan (mungkin) kekurangan – seperti anak kandung yang tidak bisa memilih pada orangtua seperti apa ia dilahirkan.. Terus terang untuk sampai ke titik ini pasti juga perlu pengorbanan, perlu banyak belajar keikhlasan dari suamiku (ooh I hate it when he’s right, hehe).
Dari beberapa tahun aku mengenal Ibu dan menjadi menantunya, aku merasa sebetulnya ada beberapa hal yang bisa jadi jembatan perekat hubungan menantu-mertua ini.
Ibu adalah Ibu, mencoba melupakan istilah Mertua.Maksudku - dalam pembicaraan sehari-hari setelah menikah - menempatkan Ibu mertua sebagai IbuKu dan bukan IbuMu (suami), adalah hal kecil yang bisa jadi penyemangat secara batiniah. Karena itu belajar pembiasaan diri untuk menceritakan Ibu dan Bapak Mertuaku sebagai Ibu dan BapakKu…bukan Ibu dan Bapak suamiku.
Seiring berjalan waktu, aku ngerasa ternyata ada loh hal-hal yang bisa dengan mudah membuatku menjadi mantu idaman (geer dikit boleh dooong..). Ibu kedengeran sangat seneng apabila aku menelpon hanya untuk menanyakan kabar. Bukan saat suamiku nelpon lalu aku ikut ngobrol. Sama senengnya dengan ketika aku menelpon Ibu untuk nanyain resep masakan yang kemarin Beliau masak saat kami dateng (dengan alasan suamiku seneng banget dan pengen dibuatin lagi olehku). Ibu seneng banget kalo aku datang mengunjungi Beliau dengan membawa cucunya meskipun suamiku sedang tidak bisa ikut. Ibu sangat senang bila aku mengatakan mau, saat ditawari barang-barang miliknya seperti piring dan gelas.
Hasilnya? Satu contoh kecil aja deh, kini, apabila ada acara dari pihak keluarga suamiku, maka akulah yang tahu duluan, bukan suamiku…Simple thing tapi deep impact buatku sebagai “compliment” hehe
Sempet kepikiran, apa aku melakukan ini semua dengan berpura-pura atau terpaksa ya? Lama kelamaan aku ngerasa, mudah-mudahan insyaAllah nggak kok.. InsyaAllah aku melakukannya dengan ikhlas…
Ngga perlu memaksakan diri menjadi mantu idaman, karena aku sudah sangat bersyukur bahwa karena Ibulah, insyaAllah anak bungsunya…menjadi suami idaman…
|
0 Comments:
Post a Comment
<< Home